NABIRE – Di balik program pelatihan 90 guru bahasa Inggris yang digelar Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua) di Papua Tengah, ada sepuluh tutor dengan kisah yang tak biasa. Sebagian besar adalah anak asli Papua yang pernah belajar hingga ke Amerika Serikat, Australia, dan Rusia. Kini mereka pulang untuk mengajar guru-guru di tanah sendiri.

Pelatihan ini merupakan program Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Program berjalan selama 66 hari dan melibatkan 150 guru bahasa Inggris dari lima kabupaten. YMH Papua melatih 90 guru di Paniai, Mimika, dan sebagian Nabire, sedangkan Yayasan Syena Ahor Papua (SAPA) melatih 60 guru di Nabire, Dogiyai, dan Deiyai.

Plt Kepala Disdikbud Papua Tengah, Nurhaidah, S.E., berharap pelatihan ini membawa manfaat langsung bagi para guru dan murid mereka. Ia juga menekankan akuntabilitas kedua yayasan, mulai dari pelatihan di lapangan hingga pelaporan.

Menurut Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan, Yulianus Kuayo, pola lama hanya memberangkatkan segelintir anak terpilih untuk kursus ke luar Papua. Kini pemerintah memilih melatih guru, agar kemampuan bahasa Inggris menjangkau jauh lebih banyak anak di kelas.

Tiga tutor berasal dari Paniai, salah satu wilayah sasaran pelatihan. Pius Tenouye, S.Par., Gr. belajar pariwisata di Universitas Udayana, Bali, lalu belajar bahasa Inggris selama dua tahun di Colorado State University, Amerika Serikat, melalui Program Otonomi Khusus Papua. Sejak 2021 ia menjadi guru PPPK di SMK Negeri 1 Pariwisata Paniai, dan sejak 2025 mengajar bersama YMH Papua.

Jekson Gobai, S.S., Gr., lulusan Sastra Inggris Universitas Papua, menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru di Universitas Musamus, Merauke, pada 2025. Kini ia mengajar di SMP YPPGY Enarotali dan kerap memakai lagu serta musik agar pelajaran terasa hidup. Selpianus Dogopia, juga putra Paniai, pernah meraih Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Inggris pada Dies Natalis Universitas Cenderawasih. Sejak 2023 ia mengajar di SMKS YPPGI Industri dan Kreatif Nabire.

Sejumlah tutor membawa pengalaman dari kampus luar negeri. Harnal Baliem Tabuni lulus dari Cleveland State University, Amerika Serikat, melalui Beasiswa Siswa Unggul Papua dan masuk Dean's List empat semester. Ia pernah mengajar di YMH Papua, Timika, dan kini mengajar di Black Pearl English Course, Biak Timur.

Jhon Cartenz P. Kreku, lulusan Geologi University of Rhode Island, Amerika Serikat, pernah bertugas bersama Gerakan Indonesia Mengajar di Weriagar, Teluk Bintuni. Di sana ia membantu 20 murid SMP menaikkan nilai bahasa Inggris hingga 50 persen. Ia juga mengajar 27 murid bersama Black Pearl Papua di Mimika.

Samuel Aleksander Mandowen meraih Australia Awards Scholarship untuk studi Master of IT di QUT, Australia, dan kini menjadi kandidat doktor di Rusia. Novita Sabatin Monim, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Cenderawasih, pernah belajar di Moscow State Linguistic University, Rusia, dan telah lebih dari lima tahun mengajar di berbagai sekolah.

Dari Nabire, Juliana Tando sudah mengajar sejak 2009. Ia meraih Fulbright Distinguished Awards in Teaching di Amerika Serikat, lalu Australia Awards Scholarship untuk studi Master of Education di Macquarie University, Australia.

Dua tutor lain berpengalaman mengajar anak dan daerah yang jarang terjangkau. Meiske Violita Monim, S.Sos pernah mengajar bersama YMH Papua hingga ke Kabupaten Paniai dan menjadi wali kelas di SD Advent Sentani Timur. Marieta Skolastika Kudmas mengajar anak-anak di Black Pearl English Course sejak 2021, berbekal kursus TESOL for Young Learners di Perth, Australia, dan program intensif di IALF Bali.

Pelatihan guru ini merupakan bagian dari program berjenjang Pemprov Papua Tengah, mulai dari kelas IV–VI SD hingga SMP, SMA, dan SMK. Program tersebut menjangkau 4.400 murid pada 2025 dan 2.294 murid pada 2026. Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi salah satu syarat masuk SMA Mepago.

Program ini sejalan dengan visi Papua Tengah Emas yang diusung Gubernur Meki Fritz Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley. Disdikbud berencana memperluasnya ke tiga kabupaten yang belum terjangkau, setelah memetakan kebutuhan guru di sana.

Bagi para tutor, pelatihan ini adalah kesempatan membuka pintu yang dulu mereka lalui sendiri. Seperti tertulis dalam profil Pius Tenouye: Dari Paniai, berbicara kepada dunia.