Dari ruang kelas sekolah kejuruan hingga ruang tamu rumah sendiri, para tutor Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua) di Paniai terus mendampingi guru bahasa Inggris tanpa mengenal batas tempat dan waktu.

Paniai – Kabut pagi masih menggantung di atas Danau Paniai ketika para tutor YMH Papua sudah melangkah menuju sekolah-sekolah. Udara dingin menusuk, jalan tidak selalu bersahabat, dan jarak antarsekolah tidak pernah dekat. Namun langkah mereka tidak pernah surut. Di setiap sekolah ada guru yang menunggu, dan di belakang setiap guru ada puluhan anak Paniai yang menitipkan mimpi mereka di ruang kelas.

Para tutor ini bukan orang asing yang datang lalu pergi. Mereka adalah anak-anak Papua yang pernah merantau jauh, menahan rindu pada kampung halaman, dan berjuang di negeri orang. Setelah itu mereka memilih pulang. Mereka tidak pulang untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

Pius Tenouye, S.Par., Gr. dulu meninggalkan Paniai untuk belajar pariwisata di Universitas Udayana, Bali. Langkahnya kemudian membawanya lebih jauh lagi, ke Colorado State University di Amerika Serikat. Di sana ia belajar bahasa Inggris selama dua tahun melalui Program Otonomi Khusus Papua. Dunia sudah terbuka lebar di hadapannya, tetapi ia memilih kembali. Sejak 2021 ia mengabdi sebagai guru PPPK di SMK Negeri 1 Pariwisata Paniai, dan sejak 2025 ia mengajar bersama YMH Papua. Profilnya memuat sebuah kalimat yang kini menjadi doa seluruh tim: Dari Paniai, berbicara kepada dunia.

Jekson Gobai, S.S., Gr. adalah lulusan Sastra Inggris Universitas Papua. Pada 2025 ia menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru jauh di Universitas Musamus, Merauke. Kini ia mengajar di SMP YPPGY Enarotali dan kerap membawa lagu serta musik ke dalam kelas, sehingga bahasa Inggris tidak lagi menakutkan. Bahasa itu bisa dinyanyikan, ditertawakan, dan dicintai.

Selpianus Dogopia, juga putra asli Paniai, pernah berdiri di atas panggung dan meraih Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Inggris pada Dies Natalis Universitas Cenderawasih. Seorang anak dari pegunungan Paniai berbicara dalam bahasa dunia dan didengar. Sejak 2023 ia mengajar di SMKS YPPGI Industri dan Kreatif Nabire, dan kini ia membawa keberanian yang sama untuk guru-guru di kampung halamannya.

Bersama mereka ada Meiske Violita Monim, S.Sos. Ia pernah mengajar bersama YMH Papua dan rela menempuh perjalanan jauh hingga ke Kabupaten Paniai demi anak-anak yang haus belajar. Ia juga pernah menjadi wali kelas di SD Advent Sentani Timur. Bagi Meiske, mendampingi guru dan anak-anak bukan sekadar tugas. Pekerjaan ini adalah panggilan hati yang membawanya kembali ke tanah yang pernah ia layani.

Selasa, 21 Oktober 2026, Pius Tenouye duduk bersama guru bahasa Inggris di SMK Yamewa. Tidak ada jarak antara pengajar dan yang diajar. Yang ada hanya dua orang yang sama-sama membuka buku, saling bertanya, dan belajar berdampingan sebagai sesama pembelajar.

Keesokan harinya, Rabu, 22 Oktober, Selpianus Dogopia menyelesaikan sesi pelatihan bersama Bapak Elly Yeimo, guru bahasa Inggris SMK Karel Gobai. Setiap sesi dijalani dengan sungguh-sungguh, sebab mereka tahu satu hal: apa yang dipelajari seorang guru hari ini akan hidup di dalam diri puluhan anak esok hari.

Jumat, 23 Oktober, langkah para tutor berlanjut ke SMP Yapis Madi Paniai. Pada hari yang sama mereka juga hadir di SD YPPGI Kepas Kopo sebagai guest teacher. Di sana mereka berdiri di depan anak-anak kecil yang menatap penuh rasa ingin tahu, seolah sedang melihat masa depan mereka sendiri. Pendampingan juga dilakukan bersama Bapak Demikion Pigai, guru dari SMP Negeri Wegebino.

Namun kisah yang paling menggetarkan hati pekan ini tidak terjadi di sekolah, melainkan di sebuah rumah sederhana.

Ibu Ester Gobai bersama rekannya datang dari kampung pedalaman. Mereka menempuh jarak yang tidak mudah, tetapi semangat mereka untuk belajar jauh lebih besar daripada lelah perjalanan. Mereka hanya punya satu permintaan: belajar langsung di rumah tutor. Permintaan itu tidak ditolak. Pintu rumah dibuka lebar, ruang tamu berubah menjadi ruang kelas, dan meja makan menjadi meja belajar. Di bawah atap sederhana itu, dua guru dari pedalaman menunjukkan kepada kita apa arti kesungguhan yang sesungguhnya.

Pemandangan itu mengajarkan bahwa semangat belajar tidak pernah membutuhkan gedung megah. Semangat itu hidup di hati guru yang menolak berhenti belajar walaupun harus berjalan jauh. Semangat itu juga hidup di hati tutor yang rela membagi waktu, tenaga, bahkan rumahnya sendiri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pelatihan guru bahasa Inggris Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam program tersebut, YMH Papua melatih 90 guru di Paniai, Mimika, dan sebagian Nabire. Di balik angka itu ada wajah-wajah yang nyata, yaitu guru yang lelah tetapi tetap datang, dan tutor yang jauh dari sorotan tetapi tetap setia.

Tidak ada panggung dan tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya kerja yang sunyi, tekun, dan setia, dari satu guru ke guru berikutnya. Setiap kosakata baru yang dikuasai seorang guru, setiap metode yang berhasil dipraktikkan, dan setiap rasa percaya diri yang tumbuh di depan kelas adalah benih yang sedang ditanam dengan sabar di tanah Paniai.

Mungkin hari ini belum ada yang melihat hasilnya. Namun suatu hari nanti seorang anak Paniai akan berdiri tegak di hadapan dunia dan berbicara dengan bangga dalam bahasa Inggris. Pada hari itu, mungkin tidak ada yang mengingat pagi-pagi berkabut, jalan-jalan berlumpur, dan ruang tamu sederhana tempat semuanya dimulai. Tetapi kita akan tahu bahwa mimpi itu lahir dari dedikasi tanpa lelah, dari anak-anak Papua yang pulang untuk menyalakan cahaya di kampung halamannya sendiri.

(Tim Tutor Paniai – YMH Papua: Pius Tenouye, Jekson Gobai, Selpianus Dogopia, Meiske Violita Monim)