NABIRE — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah membuka kegiatan Teachers Workshop / Conference bagi para pengajar bahasa Inggris Black Pearl English Course (BPEC) di Kantor Pusat Yayasan Mutiara Hitam Papua, Jalan Yan Mamoribo, Sanoba, Nabire, Selasa (9/6/2026) pagi. Kegiatan yang digelar Yayasan Mutiara Hitam Papua bersama Black Pearl Network (Australia) ini diikuti para guru dari 17 centre yang tersebar di enam provinsi di Tanah Papua.

Para guru itu datang dari jarak yang tak mudah ditempuh. Banyak di antara mereka mengajar di daerah yang sinyalnya timbul-tenggelam, jalannya berliku, dan fasilitasnya seadanya. Namun mereka tetap datang, tetap mengajar, dan tetap percaya bahwa satu kata bahasa Inggris yang diajarkan hari ini bisa membuka satu pintu masa depan esok hari. Mereka datang bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk murid-murid yang menanti di kampung halaman masing-masing. Workshop ini hadir untuk merawat semangat itu — agar para guru tidak merasa berjalan sendirian, dan agar nyala yang mereka bawa ke ruang-ruang kelas terpencil tidak padam.


Nama “Mutiara Hitam” yang melekat pada yayasan ini bukan sekadar lambang. Ia adalah cara memandang setiap anak Papua: sebagai mutiara yang berharga, yang menunggu untuk ditemukan, dirawat, dan dibiarkan bersinar. Dan pagi ini, mereka yang merawat mutiara-mutiara itu — para gurunya — duduk berdampingan, dari ujung pegunungan hingga tepi pantai.

Kehangatan terasa sejak perwakilan Black Pearl Network (BPN) Australia, Ross Gobby dan Geoff Schupp, hadir langsung di tengah para pengajar. Mewakili jaringan mitra dari seberang lautan itu, Geoff Schupp membuka rangkaian sambutan dengan suara yang lembut namun menggetarkan. Ia mengisahkan bahwa konferensi tahunan ini lahir dari kemitraan panjang — sebuah komitmen untuk tidak sekadar menjalankan program, tetapi terus mendampingi dan mengembangkan para guru di Tanah Papua. Ia menyampaikan terima kasih kepada Mina dan Lena serta semua pihak yang telah bekerja keras menyiapkan pagi itu.

Lalu ia berkata, dengan mata yang menyapu seluruh ruangan, “Hal-hal yang Bapak-Ibu kerjakan sungguh membuat kami kagum di Australia.” Ia menegaskan bahwa meski terpisah ribuan kilometer, pihaknya merasa menjadi bagian dari setiap ruang kelas di pelosok Papua. “Kami memikirkan Bapak-Ibu, kami mendoakan Bapak-Ibu, dan kami mendukung Bapak-Ibu saat kita melangkah maju bersama.” Kalimat itu menggantung sejenak di udara, dan beberapa guru tampak menunduk, menahan haru. Ia pun memuji mereka yang fasih berpindah dari bahasa daerah, ke bahasa Indonesia, lalu ke bahasa Inggris — sebuah kecerdasan yang, katanya, membuatnya rendah hati. Sebelum menutup, ia menitipkan satu kalimat yang membekas: “Senjata terbesar yang Bapak-Ibu miliki di masa depan adalah pendidikan. Tidak ada yang lebih berkuasa daripada itu.”

Selepas sambutan dari mitra Australia itu, tibalah saat yang dinanti: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah membuka kegiatan ini secara resmi, diwakili oleh Meldeky Anouw. Mengundang dinas untuk membuka workshop bukanlah sekadar formalitas. Bagi Yayasan Mutiara Hitam Papua, ini adalah bentuk penghormatan kepada mitra strategis yang selama dua tahun terakhir berjalan beriringan dalam program-program bahasa Inggris — di Kabupaten Timika, Paniai, dan Nabire. Kemitraan itu sendiri merupakan wujud nyata komitmen Gubernur Papua Tengah terhadap masa depan anak-anak Papua.

Mewakili dinas, Meldeky Anouw memulai dengan rasa syukur dan apresiasi yang tulus kepada Yayasan Mutiara Hitam Papua. Kerja sama ini, katanya, bukan yang pertama; sudah terjalin sejak tahun lalu, bahkan pertemuannya dengan salah satu perwakilan mitra dari Australia pertama kali terjadi di Kantor Gubernur. Pagi ini, di gedung yang baru saja selesai dibangun, ia menyaksikan sebuah mimpi mulai berdiri tegak.

Bagi Meldeky, bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah jendela dunia — pintu yang dapat mengantar anak-anak Papua menempuh studi ke luar negeri, dan bekal agar mereka memiliki daya saing yang sesungguhnya. Ia membayangkan generasi muda Papua yang tidak hanya mampu bekerja di tanah kelahirannya, tetapi juga sanggup berdiri sejajar di tingkat nasional maupun internasional, bahkan kelak menguasai bahasa Mandarin dan Jepang. Harapan itu, katanya, bukan tanpa urgensi: mulai 2027, pemerintah pusat akan mewajibkan pembelajaran bahasa Inggris sejak kelas 3 atau 4 sekolah dasar. Maka Papua Tengah memilih bersiap lebih awal — bukan menunggu, melainkan menjemput masa depan itu dari sekarang.

Namun di antara semua harapan besar itu, ia menyampaikan satu hal yang paling menyentuh. Kunci keberhasilan anak-anak di kelas, katanya, sebagian besar terletak di tangan guru. Ia menyentuh luka yang sering tersembunyi — banyak anak Papua merasa minder, terlebih karena bahasa Inggris bukan bahasa ibu mereka. Tugas guru, ujarnya, adalah membangun keberanian mereka untuk berbicara, menghargai setiap kesalahan tanpa menertawakannya, dan menuntun mereka hingga mampu. “Kita tidak bisa kerja sendiri,” katanya pelan — sebuah pengakuan bahwa mimpi sebesar ini hanya bisa digenggam bersama-sama. Di kursi-kursi peserta, tidak sedikit yang terdiam, lalu mengangguk. Mereka mengenali diri dalam kata-kata itu: guru yang lelah, namun tidak pernah benar-benar menyerah.

Pagi ini, harapan itu membentang jauh. Pemerintah Provinsi Papua Tengah ingin pembelajaran bahasa Inggris tidak berhenti di kota seperti Nabire dan Timika, tetapi merambah hingga ke pedalaman — Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, hingga Puncak. Itulah sebabnya pilihan dijatuhkan pada para guru: alih-alih sekadar melatih siswa beberapa bulan, mereka membina gurunya, sebab dari tangan guru yang terlatih, harapan akan terus hidup jauh setelah pelatihan usai. Pelatihan ini berlangsung sepuluh hari, dari 8 hingga 17 Juni 2026.

Ketika acara resmi dibuka pagi ini, yang sesungguhnya dimulai bukan hanya sebuah lokakarya. Yang dimulai adalah satu babak baru harapan — bahwa di tanah yang kaya ini, mutiara-mutiara terbaiknya, yaitu anak-anaknya, akan terus dijaga oleh tangan-tangan para guru yang mencintai mereka. Dan pagi itu, di Sanoba, tangan-tangan itu saling menggenggam, siap melangkah pulang membawa nyala yang lebih terang.