Pagi masih berkabut ketika seorang anak di pegunungan Papua Tengah
mengikat tali sepatunya yang mulai robek. Di depannya terbentang jalan setapak
yang licin, menurun, lalu mendaki lagi. Ia berjalan berjam-jam, kadang
menyeberangi kali, kadang menembus hutan, demi satu hal sederhana: duduk di
bangku kelas dan belajar. Di tempat lain, di pesisir Nabire, seorang anak
nelayan menatap laut sebelum berangkat sekolah. Ayahnya sudah melaut sejak
subuh, sementara ibunya menghitung uang hasil jualan ikan kemarin, memisahkan
sedikit untuk beras dan sedikit lagi untuk sekolah. Sering kali, yang tersisa
tidak cukup.
Itulah wajah pendidikan bagi banyak keluarga di Papua Tengah. Dari lembah
Paniai dan Deiyai, lereng Intan Jaya, hingga kampung-kampung di Mimika,
anak-anak menyimpan mimpi yang sama besarnya dengan anak-anak di kota mana pun.
Ada yang ingin menjadi guru agar adik-adiknya pandai membaca. Ada yang ingin
menjadi dokter karena pernah melihat keluarganya sakit tanpa pertolongan. Ada
pula yang ingin menjadi insinyur, pilot, atau pemimpin yang membangun
kampungnya sendiri.
Namun selama bertahun-tahun, banyak mimpi itu layu sebelum sempat tumbuh.
Penyebabnya bukan karena anak-anak itu malas atau kurang cerdas. Mereka
berhenti karena uang sekolah, uang komite, seragam, dan berbagai pungutan
terasa terlalu berat bagi keluarga yang hidup dari kebun, sagu, dan hasil laut.
Tidak sedikit orang tua yang harus memilih dengan hati remuk: menyekolahkan
anak sulung atau anak bungsu, membeli buku atau membeli makan. Ada anak yang
terpaksa meninggalkan kelas untuk membantu di kebun, dan ada yang menyimpan
rapor terakhirnya di dalam noken sebagai kenangan dari cita-cita yang tak
sempat diteruskan.
Kenyataan itu juga tercermin dalam angka. Pada Maret 2026, persentase
penduduk miskin Papua Tengah mencapai 30,41 persen, hampir empat kali angka
nasional yang sebesar 8,07 persen. Sekitar tiga perempat tenaga kerjanya masih
bergantung pada sektor pertanian. Bagi keluarga miskin, biaya sekolah sekecil
apa pun bisa menjadi tembok yang memisahkan anak dari masa depannya.
Di tengah kenyataan itulah, Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa
mengambil langkah yang menyentuh akar persoalan. Ia menjadikan pendidikan
gratis sebagai prioritas pemerintahannya. Ia menegaskan bahwa setiap anak
Papua, baik yang tinggal di balik gunung, di lereng bukit, di pinggiran pantai,
maupun di kepulauan, layak mendapatkan pendidikan, dan pemerintah provinsi akan
menanggung biayanya. Kalimat itu sederhana, tetapi bagi seorang ibu di kampung
maknanya sangat dalam. Ia tak perlu lagi menunda sekolah anaknya demi menunggu
musim panen. Seorang ayah tak perlu lagi menunduk malu karena tak sanggup
membayar uang komite. Seorang anak pun bisa kembali menegakkan kepala,
menggenggam bukunya, dan percaya bahwa mimpinya masih punya jalan.
Janji itu tidak berhenti di podium. Pada 2025, program sekolah gratis
Papua Tengah resmi berjalan bagi 24.481 siswa SMA dan SMK di 124 sekolah yang
tersebar di delapan kabupaten. Sekolah-sekolah itu terdiri atas 31 SMA negeri,
40 SMA swasta, 17 SMK negeri, dan 36 SMK swasta. Program ini tidak hanya
menyasar sekolah negeri. Sekolah swasta, termasuk yang dikelola yayasan gereja
dan lembaga yang sejak lama menjadi pelopor pendidikan di Tanah Papua, ikut
dirangkul. Bagi orang tua, dampaknya langsung terasa, karena uang yang dulu
habis untuk biaya sekolah kini bisa dipakai untuk kebutuhan pokok keluarga.
Bagi anak-anak, satu alasan besar untuk berhenti sekolah telah hilang.
Komitmen itu dituangkan dalam rangkaian kebijakan resmi yang dibiayai
APBD Provinsi Papua Tengah. Pada 3 September 2025, Gubernur menetapkan
Keputusan Gubernur Nomor 226 Tahun 2025 tentang penerima bantuan biaya
pendidikan bagi mahasiswa asal Papua Tengah. Sebulan kemudian, pada 3 Oktober
2025, terbit Keputusan Gubernur Nomor 259 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan
Program Sekolah Gratis, lengkap dengan daftar sekolah penerima dan harga
satuannya. Tiga hari setelahnya, Keputusan Gubernur Nomor 261 Tahun 2025
menetapkan sekolah penerima bantuan smart board untuk mendorong digitalisasi
pembelajaran. Pada 17 November 2025, Gubernur membentuk Tim Kerja Program
Sekolah Gratis melalui Keputusan Gubernur Nomor 284 Tahun 2025, yang berlaku
surut sejak Juli 2025, untuk mengawal sosialisasi dan pelaksanaannya. Di
tingkat peraturan, Pergub Nomor 14 Tahun 2025 memperbarui aturan bantuan biaya
pendidikan sehingga SPP, biaya komite, dan biaya studi lainnya dapat ditanggung
melalui Kartu Papua Tengah Cerdas, dengan prioritas bagi orang asli Papua.
Pergub Nomor 23 Tahun 2025 memastikan belanja pendidikan, beasiswa, dan bantuan
pendidikan tetap bisa dibayarkan meski APBD 2026 belum ditetapkan, sehingga
layanan pendidikan tidak terhenti hanya karena proses anggaran. Semua itu kemudian
dipayungi Perda Nomor 1 Tahun 2026 tentang APBD 2026, dan diperkuat Perda Nomor
9 Tahun 2026 tentang Pemberdayaan Lembaga Pelopor Pendidikan dan Lembaga
Pendidikan Swasta, sebuah bentuk penghargaan bagi yayasan-yayasan yang telah
mendidik anak Papua jauh sebelum provinsi ini berdiri.
Dari sisi anggaran, dokumen perencanaan provinsi mencantumkan pagu indikatif urusan pendidikan sekitar Rp491,56 miliar, ditambah sekitar Rp41,72 miliar untuk urusan kebudayaan. Angka final dalam APBD tentu bisa berbeda. Secara keseluruhan, APBD Papua Tengah 2025 memiliki pagu belanja Rp4,812 triliun, dengan realisasi Rp3,781 triliun. Saat menyampaikan pertanggungjawaban APBD di hadapan DPR Papua Tengah pada 31 Juli 2026, Gubernur Nawipa menegaskan bahwa setiap rupiah anggaran harus diarahkan untuk mempercepat pembangunan, termasuk layanan pendidikan.

Gubernur Nawipa juga memahami bahwa menghapus biaya sekolah saja belum
cukup. Anak yang lapar sulit belajar, anak di daerah rawan konflik sulit
bersekolah dengan tenang, dan lulusan SMA membutuhkan jalan untuk melanjutkan
pendidikan. Karena itu, sekolah gratis dilengkapi Sekolah Sepanjang Hari dengan
makan siang gratis untuk menekan angka putus sekolah, serta pembangunan asrama
sekolah di daerah rawan konflik. Pemerintah provinsi juga menyediakan beasiswa
pendidikan tinggi bagi anak asli Papua maupun non-Papua yang kuliah di Timika
dan Nabire. Sebanyak 120 siswa Papua Tengah menerima beasiswa provinsi untuk
belajar di Sekolah GenIUS di Tangerang. Ke depan, Gubernur merencanakan Balai
Latihan Kerja agar generasi muda siap menjadi tenaga terampil dan wirausaha
yang mampu mengelola kekayaan alam daerahnya sendiri.
Sekolah gratis untuk SMA dan SMK barulah langkah awal. Gubernur Nawipa
menegaskan bahwa pada 2026 program ini diperluas ke jenjang SD dan SMP, dengan
target seluruh jenjang pendidikan di Papua Tengah gratis dalam tiga tahun. Ia
menyebut kebijakan ini sebagai upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia
Papua Tengah, sebuah investasi jangka panjang yang hasilnya akan terasa ketika
generasi yang kini duduk di bangku sekolah mulai memimpin daerahnya sendiri.
Kebijakan pemerintah menjadi lebih bertenaga ketika disambut oleh
masyarakat sipil. Salah satu mitra itu adalah Yayasan Mutiara Hitam Papua, yang
kini berkantor di Jalan Ds. Yan Mamoribo, Sanoba, Siriwini, Nabire. Akarnya
tumbuh sejak 2008, ketika Black Pearl Network Australia menjalin kerja sama
dengan Sinode GKI di Tanah Papua. Pada 2016 lahir kelas bahasa Inggris pertama
di Klasis GKI Sarmi Barat, dan pada 2020 yayasan ini resmi berdiri. Kini Black
Pearl English Course telah hadir di 14 pusat di seluruh Tanah Papua, dua di
antaranya di Nabire. Pada 7 Mei 2025, yayasan ini bersama Ross Gobby dari Black
Pearl Network Australia bertemu Gubernur dan Sekretaris Daerah Papua Tengah.
Mereka membahas pengembangan kelas bahasa Inggris tingkat menengah dan lanjut,
uji coba di sejumlah sekolah, pelatihan guru bahasa Inggris berstandar
internasional, serta akses tes IELTS dan TOEFL yang lebih terjangkau bagi
anak-anak Papua Tengah. Gubernur menyambut baik inisiatif itu dan menyatakan
dukungannya, karena sejalan dengan visinya membangun Papua Tengah yang cerdas
dan berdaya saing. Yayasan Mutiara Hitam Papua juga membuka jembatan menuju
beasiswa melalui sesi berbagi tentang LPDP bersama Klasis GKI Nabire. Setiap
tahun, yayasan ini mengirim dua pemuda orang asli Papua belajar selama tiga
bulan di Perth, Australia, dan mengedukasi gizi seimbang berbasis pangan lokal
untuk mencegah stunting di Nabire. Pemerintah provinsi membuka pintu sekolah
lebar-lebar, sementara yayasan seperti ini membekali anak-anak dengan bahasa, jejaring,
dan keberanian untuk melangkah ke panggung dunia.
Pendidikan gratis di Papua Tengah adalah bukti bahwa kebijakan publik
bisa berpihak langsung kepada rakyat kecil. Gubernur Meki Nawipa tidak berhenti
pada janji. Ia menghadirkan program yang dapat dihitung: puluhan ribu siswa,
ratusan sekolah, dan rencana yang jelas untuk menjangkau semua jenjang. Tentu
jalan ke depan masih panjang. Kualitas guru, sarana sekolah di pedalaman,
ketepatan penyaluran dana, dan keberlanjutan anggaran harus terus dijaga.
Keberhasilan program ini menjadi tanggung jawab bersama: orang tua yang
mendorong anaknya bersekolah, guru yang mengajar dengan sepenuh hati, gereja
dan tokoh adat yang memberi teladan, yayasan yang memperluas wawasan anak-anak,
serta masyarakat yang ikut mengawasi.
Jika semua bergandeng tangan, mimpi anak-anak di gunung, lembah, dan
pesisir Papua Tengah tak lagi terhenti di depan pintu sekolah. Dari ruang-ruang
kelas itulah, generasi emas Papua Tengah sedang dibentuk. Janji untuk anak-anak
di balik gunung dan di tepi pantai itu kini telah menjadi nyata, dan tugas kita
bersama adalah memastikan nyalanya tak pernah padam.
Tambahkan Komentar Baru