Di sebuah sudut pegunungan Papua, di Kampung Yaruhuk, Distrik Hilipuk, Kabupaten Yahukimo, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Tinus Simbu. Ia tumbuh di tengah kesederhanaan, bersama ayahnya Beruk Simbu, ibunya Sisien Silak, dan tiga saudara perempuannya. Rumahnya mungkin jauh dari gemerlap kota, tetapi di dalam dadanya tersimpan mimpi yang tidak kecil: ia ingin mengubah nasibnya melalui pendidikan. Tahun 2018, ia menamatkan SD Inpres Yamin. Itu bukan sekadar kelulusan, melainkan awal dari perjalanan panjang yang penuh ujian.
Langkahnya membawanya ke SMP PGRI Wamena, lalu ke SMA Yapesli Wamena pada tahun 2021–2024. Setiap jenjang bukan hanya soal pelajaran, tetapi tentang bertahan. Tentang rindu pada rumah. Tentang menahan lelah di kota yang asing. Jarak dari kampung ke kota bukan hanya angka di peta. Itu adalah perjalanan yang memakan waktu, tenaga, dan biaya. Sinyal telepon tidak selalu ada. Komunikasi tidak selalu mungkin. Bahkan ketika ia melangkah lebih jauh lagi, hingga ke Australia, ia tidak dapat mengabari kedua orang tuanya. Tidak ada pesan yang terkirim. Tidak ada suara yang tersambung. Hanya doa yang ia bisikkan dalam diam, berharap orang tuanya merasakan kabar baik itu lewat cara Tuhan sendiri.
Pada tahun 2022–2024, Tinus bergabung dengan BPEC Port Numbay di kelas GKI Port Numbay yang berlangsung di SMA YPK Diaspora Kotaraja. Ketika ia harus pindah ke Jayapura untuk kuliah, kebingungan kembali menghampiri. Ia tidak tahu harus ke mana melanjutkan kursus. Dalam keraguan, ia memberanikan diri menghubungi Kakak Robi dan Daud melalui WhatsApp. Dari percakapan sederhana itu, jalan kembali terbuka. Ia diarahkan untuk bergabung dengan BPEC di SMA Diaspora Kotaraja. Kadang hidup berubah bukan karena hal besar, tetapi karena keberanian kecil untuk bertanya dan mencoba.

Oktober 2025 menjadi bulan yang tak pernah ia lupakan. Bersama Michael Israel, ia dipanggil untuk wawancara oleh Miss Sera dan Lee Anne di SMA Diaspora Kotaraja. Saat duduk di kursi wawancara, tangannya terasa dingin. Dalam hatinya ia berkata, mungkin ini terlalu tinggi untukku. Ia hanya anak kampung dari Yaruhuk. Namun di balik keraguan itu, ia tetap menjawab dengan jujur dan apa adanya. Dan ketika pengumuman datang, namanya disebut sebagai peserta yang terpilih mengikuti program APECP (Australian Papuan Cultural Exchange Program) di Australia selama tiga bulan. Dunia yang dulu terasa jauh kini menjadi nyata.
Ketika pesawat mendarat dan ia menginjakkan kaki di Australia, ada rasa bangga yang membuncah, tetapi juga luka kecil yang menusuk. Ia ingin sekali menelepon ayah dan ibunya. Ia ingin berkata, “Saya sudah sampai.” Tetapi keadaan belum mengizinkan. Ia berdiri di negeri orang dengan hati yang penuh rindu. Di tengah suasana baru, bersama host family dan di Milner International College of English di Perth, Western Australia, ia belajar tentang bahasa dan budaya, tetapi lebih dari itu, ia belajar tentang arti pengorbanan. Ia menyadari bahwa setiap langkahnya membawa doa orang tua yang mungkin tak pernah ia dengar langsung, tetapi selalu menyertainya.
Perjalanan Tinus bukan sekadar cerita tentang sekolah atau program luar negeri. Ini adalah kisah tentang seorang anak dari kampung terpencil yang berani melawan keterbatasan. Tentang rindu yang tidak terucap. Tentang doa yang tidak selalu terdengar, tetapi nyata. Tentang harapan yang tidak padam meski diterpa sunyi. Ia membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal jarak, dan harapan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang tidak menyerah.
Komentar
Proud of you Tinus, my college classmate
Terima kasih Tuhan Yesus.
Kebaikan Tuhan Yesus adik kami Tinus simbu bisa sampai ke Australia.
Ini kembangkan kami 3 bersaudara. Kami perempuan semua pendidikan hanya di Papua dan ada juga di Manado. Tidak bajangkan adik kami sampai di Australia semua kebanggaan tersendiri bagi kami orang tua
Terima kasih juga kepada tim yang bertanggung jawab atas semua pelayanan perjalaan adik kami
Tambahkan Komentar Baru