NABIRE, Papua Tengah — Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua) bersama Black Pearl Network (BPN) Australia menggelar Workshop Instalasi Air Bersih di Kantor Pusat yayasan, Sanoba Pantai, Nabire, Senin (7/9/2026). Pelatihan ini menargetkan 30 peserta dari dua klasis di Papua Tengah, yaitu Klasis Nabire dan Klasis Nabire Timur, dan pada hari pelaksanaan diikuti 22 orang hingga selesai.

Selama sehari penuh, peserta dilatih mengenali kualitas air yang mereka konsumsi setiap hari dan memasang sistem penampungan air hujan yang aman untuk diminum. Kegiatan ini merupakan buah kemitraan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua dengan gereja mitra di Australia, Uniting Church in Australia Synod of Western Australia — kemitraan yang manfaatnya kini dirasakan langsung oleh pemuda gereja di Papua Tengah.
Nabire sebenarnya bukan daerah yang kekurangan air. Data iklim Nabire periode 2007–2020 mencatat curah hujan rata-rata sekitar 4.815 milimeter per tahun, dengan 209 hari hujan. Artinya, lebih dari separuh hari dalam setahun langit Nabire menurunkan hujan. Tidak ada bulan kering di kota ini. Curah hujan bulanan terendah tercatat pada Oktober, sekitar 340 milimeter, dan tertinggi pada Maret, sekitar 523 milimeter. Catatan tahun 2021 menunjukkan pola serupa: hujan turun setiap bulan sepanjang tahun, dengan rata-rata 423,80 milimeter dan jumlah hari hujan berkisar 19 sampai 29 hari per bulan.
Persoalannya justru terletak di tempat lain. Air yang melimpah itu belum tentu aman diminum, dan sebagian besar dibiarkan mengalir ke tanah tanpa dimanfaatkan. Sebagai gambaran sederhana, rumah dengan atap seluas 50 meter persegi di Nabire berpotensi menampung sekitar 240 ribu liter air hujan dalam setahun. Bahkan jika hanya 80 persen yang berhasil tertangkap, jumlahnya masih sekitar 190 ribu liter, atau lebih dari 500 liter setiap hari. Selama ini air sebanyak itu jatuh begitu saja.

Workshop dibuka oleh Dewan Pengawas YMH Papua, Ibu R. Kafiar, M.Kp. Dalam sambutannya, Ibu Kafiar menyampaikan apresiasi dan rasa syukur karena yayasan terus melakukan aksi nyata di tingkat basis. Menurutnya, pelatihan seperti ini adalah cara yayasan hadir langsung di tengah jemaat, bukan berhenti pada rencana di atas kertas. Ia berharap ilmu yang diterima peserta benar-benar dipakai setelah mereka kembali ke jemaat masing-masing.
Turut hadir mendampingi jalannya kegiatan, Ketua Yayasan Mutiara Hitam Papua, Mina V Sarwom,SP dan Manajer Program Air Bersih YMH Papua, Jerry Simunpendi. Kehadirannya menegaskan bahwa workshop ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari program air bersih yayasan yang berjalan berkelanjutan di berbagai wilayah Tanah Papua.
Materi disampaikan Ribka Yoteni, S.T., tenaga teknis yayasan yang akrab disapa Kak Adel. Ia sarjana teknik sipil asal Papua yang sebelumnya dilatih langsung oleh Dr. David Scott, ahli air dari BPN Australia. Di ruangan itu, ilmu tersebut berpindah tangan sekali lagi — dari Australia ke Kak Adel, dan dari Kak Adel ke pemuda-pemudi jemaat.

Kak Adel tidak mengajar dengan teori yang jauh dari kehidupan peserta. Ia mengangkat kasus-kasus nyata yang dihadapi jemaat maupun masyarakat umum saat mengonsumsi air sehari-hari. Ada tiga sumber air yang ia bahas, yaitu air sumur, air kemasan, dan air hujan. Ketiganya biasa dipakai warga, dan ketiganya dianggap sama saja. Padahal, menurutnya, masing-masing punya risiko berbeda yang sering luput disadari. Peserta kemudian diajarkan cara melakukan analisis kualitas air dengan langkah-langkah sederhana. Selama ini banyak keluarga hanya bisa menduga apakah airnya layak atau tidak; setelah pelatihan, mereka punya cara untuk memeriksanya sendiri.
Workshop ini merupakan bagian dari program Pelatihan Air Bersih YMH Papua yang memperkenalkan First Flush System atau Sistem Bilasan Pertama. Selama ini banyak warga ragu memakai air hujan dari atap, dan keraguan itu masuk akal karena air tersebut membawa dedaunan, kotoran burung, serta debu. Sistem Bilasan Pertama menjawabnya dengan cara yang sangat sederhana: ketika hujan mulai turun, air pertama yang membilas atap dipisahkan lebih dulu lewat saluran khusus, sebab air itulah yang paling kotor. Setelah bagian kotor terbuang, air bersih baru dialirkan ke tangki penampungan. Sistem ini tidak memakai mesin dan tidak punya bagian bergerak, sehingga hampir tidak memerlukan perawatan. Bahannya pun mudah didapat di pasar setempat, yakni pipa, talang, dan tangki, dengan catatan dudukan tangki harus kuat karena tangki 1.000 liter beratnya sekitar satu ton saat terisi penuh.
Meski begitu, program ini bukan tanpa kendala. Biaya membangun satu unit sistem berkisar AU$800 sampai AU$1.600, tergantung kondisi medan dan jarak lokasi — semakin terpencil kampungnya, semakin mahal ongkos angkut materialnya. Angka itu tidak ringan bagi rumah tangga di kampung, sehingga program ini sulit berjalan tanpa dukungan pendanaan dan gotong royong jemaat. Namun ada jalan masuk yang lebih terjangkau: rumah yang sudah memiliki penampungan air cukup menambah pipa, sambungan, dan talang dengan biaya sekitar AU$25. Bagi banyak jemaat, dari situlah langkah pertama paling masuk akal dimulai.
Yang membedakan program ini dari kebanyakan bantuan adalah pendekatannya. YMH Papua tidak datang untuk membangunkan fasilitas lalu pergi. Dalam dokumen Program Kerja yayasan, tujuan pelatihan dirumuskan sebagai transfer pengetahuan dan keterampilan mengelola air bersih, yang diharapkan juga bisa menjadi sumber pendapatan bagi pesertanya. Karena itu setiap pemasangan di lapangan selalu melibatkan warga setempat, supaya ilmunya tinggal di kampung dan tidak ikut pulang bersama tim.

Program air bersih sendiri merupakan salah satu program tertua dalam perjalanan yayasan. Kerja sama bermula pada 2008, ketika Black Pearl Network Australia bermitra dengan Sinode GKI di Tanah Papua untuk membahas berbagai persoalan sosial di Papua. Pada 2013, program air bersih resmi berjalan bersama Lembaga Air Kehidupan (LEMAK), kelompok asal Papua yang fokus menyediakan sumur dan sanitasi bagi masyarakat yang membutuhkan. Selama kurang lebih sepuluh tahun, LEMAK menerima pendanaan, pelatihan teknis, dan pendampingan pengelolaan keuangan, hingga akhirnya mampu berdiri sendiri dan mencari pendanaan dari sumber lain. Perubahan besar terjadi pada 2020, ketika Yayasan Mutiara Hitam Papua dibentuk agar program-program yang disponsori Black Pearl Network Perth dan Uniting Church in Australia Synod of Western Australia dikelola langsung dari Papua. Yayasan resmi berbadan hukum pada 3 November 2020 dan berkedudukan di Nabire.
Pelatihan Air Bersih adalah satu dari tujuh program yayasan, bersama Black Pearl English Course (BPEC), Pelatihan Guru, Days for Girls, Pelatihan Vokasi bidang pariwisata, program Kesehatan untuk pencegahan stunting, serta Australia Papua Cultural Exchange Program (APCEP) di Perth, Australia. Seluruhnya berpijak pada satu visi, yaitu mempersiapkan generasi muda Papua menghadapi arus perubahan globalisasi.
Dua
puluh dua peserta yang hadir kini pulang membawa bekal baru. Mereka tahu cara
menilai kualitas air dan tahu cara memasang sistem yang mengubah air hujan
menjadi air layak minum. Yang belum selesai justru bagian tersulitnya, yakni
memastikan ilmu itu benar-benar terpasang di atap rumah-rumah jemaat, dan untuk
itu dibutuhkan pendampingan lanjutan, dukungan klasis, serta kerja sama warga.
Hujan akan tetap turun lebih dari 200 hari setiap tahun di Nabire. Yang
menentukan hanyalah apakah air itu ditampung dengan benar, atau kembali
dibiarkan lewat seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tambahkan Komentar Baru