Dewan Pengawas yayasan apresiasi dukungan kepala sekolah dan dewan guru; kegiatan digelar setelah kondisi kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Niño di Nabire.

NABIRE, Papua Tengah — Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua) bersama Black Pearl Network (BPN) Australia melatih 20 anggota dewan guru SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire untuk memeriksa kualitas air dan memasang sistem pemanenan air hujan guna mendukung ketersediaan air bersih di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Workshop Instalasi Air Bersih dalam dua tahap di sekolah tersebut, Jumat (11/9/2026) dan Senin (14/9/2026).

Tahap pertama berupa sosialisasi dan analisis kualitas air, sedangkan tahap kedua berupa praktik instalasi lapangan di lingkungan sekolah yang berlokasi di Kampung Bumi Raya, Distrik Nabire Barat.


Pelatihan ini dilaksanakan tidak lama setelah Pemerintah Kabupaten Nabire merespons kondisi kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Niño pada akhir Agustus 2026. Pemerintah daerah membentuk Satuan Tugas Tanggap El Niño untuk menangani dampak penurunan ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nabire mencatat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan sejak Juli 2026 serta melakukan penyaluran air bersih ke wilayah terdampak. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air menyusul penurunan debit air.

Dewan Pengawas YMH Papua, R. Kafiar, M.Kp., menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah atas dukungan yang diberikan selama kegiatan. Menurutnya, kesediaan kepala sekolah dan dewan guru menjadi tuan rumah sekaligus terlibat langsung dalam pemasangan merupakan bentuk dukungan yang dibutuhkan yayasan pada tingkat basis. Ia berharap pengetahuan yang diterima para guru dapat diteruskan kepada peserta didik sekolah tersebut.


Kepala SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, Fransiscus D. B. Johanes, S.Pt., M.MPd., bersama dewan guru menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut sejak tahap persiapan. Sekolah menyediakan ruang kegiatan dan lokasi pemasangan, serta menugaskan 20 anggota dewan guru mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga selesai.

Peserta pelatihan dipilih dari kalangan guru, bukan siswa, dengan pertimbangan keberlanjutan program. Guru dinilai sebagai pihak yang akan mengelola dan merawat sarana air sekolah dalam jangka panjang sekaligus meneruskan pengetahuan tersebut kepada peserta didik. SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire merupakan sekolah negeri yang memiliki peran dalam pengembangan calon tenaga pendidik Papua, dengan peserta didik berasal dari berbagai wilayah adat di Papua Tengah dan sebagian besar tinggal di asrama.

Materi pelatihan disampaikan Ribka Yoteni, S.T., tenaga teknis YMH Papua. Sarjana teknik sipil asal Papua tersebut sebelumnya menerima pelatihan langsung dari Dr. David Scott, ahli air dari BPN Australia. Pada tahap sosialisasi, peserta dikenalkan pada karakteristik dan risiko dari beberapa sumber air yang umum digunakan masyarakat, yaitu air sumur, air kemasan, dan air hujan, serta diajarkan langkah sederhana untuk melakukan pemeriksaan kualitas air.

Kegiatan turut dihadiri Ketua Yayasan Mutiara Hitam Papua, Mina V. Sarwom, SP, dan Manajer Program Air Bersih YMH Papua, Jerry Simunpendi.

Pada tahap praktik, peserta memasang First Flush System atau Sistem Bilasan Pertama. Sistem tersebut berfungsi memisahkan air hujan pertama yang mengalir dari permukaan atap karena berpotensi membawa dedaunan, debu, dan kotoran lain sebelum air dialirkan menuju tangki penampungan.

Sistem ini bekerja tanpa mesin dan tanpa komponen bergerak sehingga relatif sederhana dalam pengoperasian. Namun, pemeriksaan dan pembersihan secara berkala tetap diperlukan untuk menjaga fungsi sistem. Yayasan menjelaskan bahwa sistem yang dipasang bertujuan meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bersih melalui pemanfaatan air hujan. Air hasil penampungan tetap memerlukan pemeriksaan kualitas dan pengolahan lanjutan sesuai standar yang berlaku apabila akan digunakan sebagai air konsumsi.


Yayasan mengingatkan bahwa dudukan tangki harus kokoh karena tangki berkapasitas 1.000 liter memiliki bobot sekitar satu ton dalam keadaan penuh. Pemasangan dikerjakan oleh peserta dengan pendampingan tenaga teknis, sesuai pendekatan yayasan yang menempatkan transfer keterampilan kepada warga setempat sebagai tujuan pelatihan.

Data iklim Nabire periode 2007–2020 mencatat curah hujan rata-rata sekitar 4.815 milimeter per tahun dengan 209 hari hujan dan tanpa bulan kering. Berdasarkan perhitungan teoritis, atap seluas 50 meter persegi berpotensi menangkap sekitar 240 ribu liter air hujan per tahun. Potensi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya jumlah curah hujan, tetapi juga bagaimana air dapat dikumpulkan, disimpan, dikelola, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Program air bersih merupakan salah satu program tertua YMH Papua dan berakar pada kemitraan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua dengan Uniting Church in Australia Synod of Western Australia. Kerja sama tersebut menurut catatan yayasan dimulai pada 2008 melalui pembahasan persoalan sosial di Papua bersama BPN Australia, berlanjut pada 2013 melalui program air bersih bersama Lembaga Air Kehidupan (LEMAK), dan sejak 2020 dikelola langsung dari Papua setelah YMH Papua dibentuk. Yayasan berbadan hukum pada 3 November 2020 dan berkedudukan di Nabire. Pelatihan Air Bersih merupakan salah satu dari tujuh program yayasan.

Kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Gubernur Meki Nawipa menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta layanan dasar pendidikan dan kesehatan sebagai salah satu fokus pembangunan 2025–2029. Pada Desember 2025, pemerintah provinsi juga meluncurkan program pendidikan gratis jenjang SMA dan SMK bersama bantuan bagi pengelola asrama berbasis keagamaan dan daerah 3T.

Menurut yayasan, pembagian peran tersebut menjadi bagian dari upaya bersama, yaitu pemerintah membuka akses pendidikan, sementara lembaga nonpemerintah melengkapi dari sisi kelayakan hidup peserta didik, termasuk dukungan terhadap ketersediaan air bersih di sekolah dan asrama.