Tim Tutor Timika Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua)
berbagi cerita motivasi dan simulasi Contextual Teaching and Learning (CTL) di
SMP Negeri 9 Mimika, Distrik Kwamki Narama, sekolah inovatif yang terus belajar
di daerah konflik.
Timika – Asap tipis membubung dari halaman SMP Negeri 9 Mimika di Distrik Kwamki Narama. Batu-batu dipanaskan hingga membara, daun-daun disusun rapi, dan ubi serta bahan makanan lain ditata di atasnya. Kepala SMP Negeri 9 Mimika, Ibu Martha Welman Benamen, S.Pd., bersama para guru dan anak-anak bekerja berdampingan dengan Tim Tutor Timika YMH Papua. Mereka menyatu dalam satu tradisi yang sejak lama mempersatukan masyarakat Papua: bakar batu.

Di wilayah yang kerap diwarnai konflik, pemandangan ini terasa begitu menyentuh. Tangan-tangan kecil ikut mengangkat daun dan menyusun batu, dan tawa pecah di sela kepulan asap. Untuk beberapa jam, tidak ada rasa takut dan tidak ada sekat. Yang ada hanya kebersamaan.
Setelah tumpukan bakar batu ditutup dan dibiarkan matang, semua masuk ke kelas. Di sana tiga tutor Timika membuka kisah hidup mereka. Mereka adalah anak-anak Papua yang pernah menimba ilmu hingga ke luar negeri dan kini pulang untuk melayani tanah sendiri.
Harnal Baliem Tabuni bercerita tentang perjuangannya di Cleveland State University, Amerika Serikat. Ia berangkat melalui Beasiswa Siswa Unggul Papua dan berhasil masuk Dean’s List selama empat semester. Jhon Cartenz P. Kreku, lulusan Geologi University of Rhode Island, Amerika Serikat, pernah mengabdi bersama Gerakan Indonesia Mengajar di Weriagar, Teluk Bintuni. Di sana ia membantu 20 murid SMP menaikkan nilai bahasa Inggris hingga 50 persen. Samuel Aleksander Mandowen meraih Australia Awards Scholarship untuk studi Master of IT di Queensland University of Technology (QUT), Australia, dan kini menjadi kandidat doktor di Rusia.
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Kisah itu bukan dongeng dari tempat jauh. Kisah itu datang dari kakak-kakak Papua yang wajah dan logatnya sama dengan mereka, yang dulu juga pernah duduk di bangku sekolah sederhana. Pesannya menancap dalam: dari tanah ini, kalian juga bisa sampai ke ujung dunia.
Suasana kelas kemudian mencair ketika tutor mengajak anak-anak bermain game. Ruangan yang tadinya hening berubah riuh oleh sorak, tawa, dan semangat yang meluap.

Setelah itu, Harnal memandu simulasi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Ia tidak meminta anak-anak menghafal kata dari buku. Ia memakai pengalaman yang baru saja mereka jalani bersama, yaitu bakar batu. Anak-anak belajar kosakata bahasa Inggris seperti stone, fire, sweet potato, dan leaves, lalu merangkainya menjadi kalimat sederhana: “We cook sweet potatoes with hot stones” dan “We eat together.”
Inilah inti CTL: belajar dari kehidupan sendiri. Kata-kata asing tidak lagi terasa jauh, karena anak-anak baru saja menyentuh batunya, mencium asapnya, dan merasakan hangatnya kebersamaan. Bahasa Inggris tidak lagi asing di telinga mereka. Bahasa itu kini bercerita tentang rumah mereka sendiri.
Ketika waktu membuka bakar batu tiba, semua kembali ke halaman. Daun dibuka perlahan dan aroma masakan menyebar ke seluruh halaman sekolah. Ibu Martha Welman Benamen, para guru, anak-anak, dan tim tutor duduk bersama dan menikmati makan siang dari satu tungku yang sama.
Di tengah situasi daerah yang tidak selalu mudah, siang itu menunjukkan sesuatu yang berharga: sekolah masih bisa menjadi ruang aman, tempat anak-anak belajar, tertawa, dan berani bermimpi. Seperti batu yang dipanaskan perlahan hingga mampu mematangkan makanan, pendidikan yang sabar dan dekat dengan kehidupan anak mampu menumbuhkan harapan, bahkan di tempat yang paling sulit sekalipun.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pelatihan guru bahasa Inggris Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah. Dalam program tersebut, YMH Papua melatih 90 guru di Paniai, Mimika, dan sebagian Nabire. SMP Negeri 9 Mimika membuktikan bahwa inovasi tidak harus mahal. Inovasi bisa lahir dari tradisi sendiri, dari halaman sekolah, dari bara batu, dan dari hati para guru yang tidak pernah berhenti percaya pada anak-anaknya.
(Tim Tutor Timika – YMH Papua: Harnal Baliem Tabuni, Jhon
Cartenz P. Kreku, Samuel Aleksander Mandowen)
Komentar
Terima kasih anak"/ adik" hebat yang sudah melangkah kan kami di sekolah kami untuk membagi seberkas ilmu bagi anak" kami yang 99,9 %anak papua TYB ade" yg hebat' dsn profesional .. the best
Luar biasa, sangat menginspirasi, Tuhan memberkati SMP N 9 dan Yayasan Mutiara Hitam😇🙏🤗
Saya sangat apresiasi pembelajaran kontekstual di Kwamki Narama. Contoh nyata, siswa belajar bahasa inggeis melalui kegiatan bakar batu dengan mengenal nama bahan makanan dan peralatan dalam bahasa inggris pembelajaran ini membuat siswa lebih mudah memahami pembelajan sekali gus melestarikan budaya Papua.🙏🙏
Tambahkan Komentar Baru