Adelaide, 30 April 2026 — Di sebuah ruangan sederhana di The Exchange Conservation Council SA, Fred Bundah berdiri di hadapan sekelompok orang yang ingin tahu lebih banyak tentang Papua. Ia tidak datang sebagai pejabat atau selebritas. Ia datang sebagai seorang anak Papua yang kebetulan sedang menempuh studi Magister di University of Adelaide melalui beasiswa LPDP, sekaligus sebagai Direktur Yayasan Mutiara Hitam Papua atau Black Pearl. Forum sore itu diselenggarakan oleh Grass Roots Consulting South Australia, dan Fred diminta bercerita apa adanya, tanpa polesan.

Fred memulai ceritanya dengan jujur. Papua, katanya, adalah tanah yang kaya namun penuh paradoks. Sumber daya alam melimpah, tetapi banyak anak yang masih kesulitan mengakses pendidikan yang layak. Sekolah-sekolah di kampung sering kali kekurangan guru, buku, dan bahkan listrik. Ada anak-anak yang harus berjalan kaki berjam-jam menempuh jalan berlumpur untuk sampai ke kelas, lalu pulang sebelum gelap karena tidak ada penerangan di jalan. Ada juga yang harus berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu, atau karena harus membantu keluarga di kebun. Belum lagi tantangan akses kesehatan, air bersih, dan situasi sosial yang kadang tidak menentu di beberapa wilayah. Inilah Papua yang sesungguhnya, kata Fred, bukan Papua yang ada di kartu pos.



Di tengah kondisi seperti itulah Black Pearl lahir dan tumbuh selama kurang lebih 15 tahun terakhir. Fred bercerita bahwa awalnya hanya kelas Bahasa Inggris kecil, dengan peralatan seadanya dan guru-guru yang mengajar dengan hati. Pelan-pelan, kelas itu berkembang menjadi 17 pusat pembelajaran yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Papua. Pusat utama berada di Kabupaten Nabire, yang fokus mempersiapkan anak-anak Papua agar mampu bersaing meraih beasiswa di dalam dan luar negeri. Fred tidak menjanjikan jalan yang mudah. Ia tahu betul bahwa untuk seorang anak Papua, jalan menuju universitas di luar negeri penuh tantangan, mulai dari kemampuan bahasa, keterbatasan informasi, hingga rasa minder yang sering kali jadi musuh terbesar.



Selain bahasa, Black Pearl juga mengerjakan hal-hal yang mungkin terlihat sederhana tetapi sangat penting di lapangan, seperti program air bersih dan kesehatan dasar. Fred menjelaskan, sulit meminta anak fokus belajar kalau di rumah ia masih harus berjalan jauh mengambil air, atau kalau ia sering sakit karena lingkungan yang kurang sehat. Maka pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar harus berjalan beriringan, tidak bisa salah satu saja.

Fred kemudian membagikan rencana-rencana yang sedang disiapkan ke depan. Ada program pelatihan kewirausahaan dan bisnis khusus untuk anak-anak asli Papua, sebab Fred ingin generasi muda Papua tidak hanya menjadi pencari kerja di tanahnya sendiri. Ada bimbingan beasiswa yang akan diperkuat agar lebih banyak anak Papua bisa menembus universitas-universitas baik di dalam dan luar negeri. Ada pula upaya menggandeng guru-guru relawan dari Australia untuk datang mengajar langsung di Papua, serta program conversation partner yang menghubungkan penutur asli Bahasa Inggris dengan para guru Black Pearl. Fred sadar, semua rencana ini tidak akan mudah dan tidak akan cepat. Tetapi ia percaya, setiap langkah kecil tetap berarti.



Ada satu hal yang Fred tegaskan dengan sungguh-sungguh sore itu. Black Pearl tidak akan pernah bisa berdiri tanpa orang-orang yang setia menemaninya di Papua. Ia menyebut gereja, terutama GKI di Tanah Papua, yang sejak awal membuka tangan dan menyediakan ruang. Ia menyebut orang tua-orang tua yang sederhana, banyak di antaranya petani dan nelayan, yang tetap mendorong anak-anak mereka belajar meskipun hidup tidak mudah. Ia juga menyebut komunitas-komunitas kampung yang ikut menjaga, ikut mendoakan, ikut percaya. Tanpa mereka, kata Fred, Black Pearl hanyalah nama di atas kertas.

Para peserta forum mendengarkan dengan saksama. Banyak dari mereka mungkin baru pertama kali mendengar gambaran Papua yang utuh seperti itu, bukan hanya berita di televisi. Setelah Fred selesai berbicara, satu per satu mulai menyampaikan tanggapan. Ada yang menawarkan diri menjadi conversation partner untuk anak-anak Papua. Ada yang serius mempertimbangkan untuk datang mengajar di Papua sebagai guru relawan. Ada pula yang menawarkan keahlian di bidang kecerdasan buatan, kerja komunitas, kesehatan, sains, dan bidang-bidang lain untuk membantu memperkuat kapasitas staf dan pengajar Black Pearl. Tawaran-tawaran itu disampaikan dengan rendah hati, tanpa nada menggurui, dan Fred menerimanya dengan rasa syukur sekaligus tanggung jawab.



Untuk anak-anak Papua yang mungkin suatu hari membaca tulisan ini, ada satu pesan yang ingin disampaikan dengan jujur. Jalan kalian memang tidak mudah. Kondisi di kampung mungkin masih jauh dari ideal, fasilitas terbatas, dan kadang-kadang kalian merasa dunia bergerak terlalu cepat sementara kalian tertinggal. Itu bukan salah kalian. Tetapi ketahuilah, di sebuah sore di Adelaide, ada orang-orang yang baru saja mendengar tentang perjuangan kalian dan memilih untuk peduli. Lihat juga Fred, ia tumbuh dengan tantangan-tantangan yang mungkin tidak jauh berbeda dari yang kalian hadapi sekarang, tetapi ia terus melangkah, satu kelas bahasa, satu ujian, satu beasiswa pada satu waktu, sampai akhirnya bisa belajar di University of Adelaide dan kembali memikirkan kalian dari sana. Mimpi tidak harus besar dari awal. Ia bisa dimulai dari hal kecil, seperti tekun belajar di kelas Black Pearl, berani mencoba berbicara dalam Bahasa Inggris meskipun masih patah-patah, atau menolak menyerah ketika hidup terasa berat.

Fred Bundah akan kembali ke ruang kuliahnya di Adelaide, melanjutkan studi sambil terus memantau perkembangan Black Pearl di Papua. Forum sore itu tidak menyelesaikan semua persoalan Papua, dan Fred pun tidak pernah menjanjikan hal seperti itu. Tetapi ia membawa pulang sesuatu yang berharga, yaitu jaringan baru, perhatian yang tulus, dan keyakinan bahwa Yayasan Mutiara Hitam Papua sedang tumbuh menjadi lembaga lokal yang lebih dewasa dan profesional, mampu membangun relasi kerja setara dengan mitra-mitra internasional namun tetap berpijak di tanah dan komunitasnya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup untuk satu sore di Adelaide. Selebihnya, pekerjaan menanti di Tanah Papua, di kelas-kelas sederhana, di kampung-kampung yang jauh, di tangan anak-anak yang sedang belajar percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.