Yayasan Mutiara Hitam Papua Latih 90 Guru Bahasa Inggris di
Papua Tengah
NABIRE – Yayasan Mutiara Hitam Papua melatih 90 guru Bahasa
Inggris di Kabupaten Paniai, Mimika, dan sebagian Nabire. Pelatihan itu
merupakan bagian terbesar dari program Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang
melibatkan total 150 guru dari lima kabupaten, yang berlangsung selama 66 hari.
Program tersebut dijalankan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
(Disdikbud) Papua Tengah bersama dua mitra, yakni Yayasan Mutiara Hitam Papua
dan Yayasan Syena Ahor Papua (SAPA). Kerja sama itu diikat dalam Perjanjian
Kerja Sama (PKS) sebelum pelatihan dimulai.
Tekankan Akuntabilitas di Lapangan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Papua Tengah,
Nurhaidah, S.E., menekankan pentingnya pertanggungjawaban kedua yayasan selama
program berjalan. Akuntabilitas itu, menurut dia, harus dijaga mulai dari
proses pelatihan di lapangan hingga tahap pelaporan.
Nurhaidah berharap pelatihan ini memberi dampak nyata, tidak
berhenti pada guru, tetapi sampai ke ruang kelas.
"Pelatihan ini diharapkan memberikan manfaat langsung
bagi bapak ibu guru Bahasa Inggris, yang tentunya akan berdampak langsung
kepada siswa-siswi di kelas. Ini menjadi harapan kita semua," ujarnya.
Wilayah Terluas untuk Mutiara Hitam
Kepala Seksi Data dan Informasi Disdikbud Papua Tengah, Yuly
Yasmin Tecuari, mengatakan Yayasan Mutiara Hitam Papua dipercaya menangani
wilayah dengan sebaran peserta terluas.
"Yayasan Mutiara Hitam Papua menangani Paniai, Mimika,
dan sebagian Nabire," kata Yuly.
Adapun SAPA melatih 60 guru lainnya, yakni guru SD di Nabire
serta 17 guru di Dogiyai dan 19 guru di Deiyai.
Menurut Yuly, kedua yayasan dipilih karena memiliki
pengalaman mengembangkan pembelajaran Bahasa Inggris di Tanah Papua. Pengalaman
itu dinilai penting mengingat kondisi geografis, situasi keamanan, dan
keterbatasan tenaga pendidik masih menjadi kendala dalam menjangkau anak-anak
di daerah terpencil.
"Ini tantangan dan kami harus mencari solusi terbaik
untuk bisa memajukan anak-anak di Papua Tengah," ujarnya.
Ia menjelaskan, program semester ini difokuskan pada guru
karena mereka berperan langsung meneruskan kemampuan berbahasa Inggris kepada
siswa di sekolah. Disdikbud menargetkan program ini kelak menjangkau seluruh
delapan kabupaten di Papua Tengah. Untuk tiga kabupaten yang belum tercakup
tahun ini, pihaknya akan lebih dulu melakukan survei kebutuhan guru dan kondisi
wilayah.
Mengubah Pola Lama
Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Disdikbud Papua
Tengah, Yulianus Kuayo, menyebut penguatan Bahasa Inggris sebagai salah satu
fondasi transformasi pendidikan di provinsi tersebut.
Selama ini, kata Yulianus, kesempatan belajar Bahasa Inggris
hanya dinikmati segelintir siswa yang diseleksi dan dibiayai untuk kursus di
luar Papua. Melalui kemitraan dengan yayasan lokal, Pemprov kini membawa
program itu ke Papua Tengah agar dapat diakses lebih banyak anak.
"Salah satu transformasi pendidikan yang dilakukan
adalah bagaimana kita menyiapkan anak-anak Papua dari Papua Tengah supaya
berdaya saing. Dulu beberapa anak diseleksi lalu dibiayai untuk mengikuti
kursus ke luar Papua. Sekarang konsep itu kita ubah," ujarnya.
Program dirancang berjenjang, dimulai dari kelas IV, V, dan
VI sekolah dasar, lalu berlanjut ke SMP, SMA, dan SMK. Siswa yang telah
mengikuti kursus pada tahun sebelumnya melanjutkan pembelajaran di jenjang
berikutnya. Disdikbud mencatat 4.400 siswa mengikuti program ini pada 2025 dan
2.294 siswa pada 2026.
Kemampuan Bahasa Inggris juga menjadi salah satu syarat
masuk SMA Mepago. "Kalau nanti ada yang bertanya dari mana anak-anak yang
bisa Bahasa Inggris, kita sudah siapkan dari bawah, mulai dari SD, SMP, SMA,
dan SMK," kata Yulianus.
Ia menambahkan, di tengah program pengiriman siswa ke luar
Nabire, pemerintah ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama.
Penguasaan bahasa asing dinilai menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan dan
bersaing di dunia kerja.
"Itulah transformasinya. Bahasa Inggris ini salah satu
dasar yang memang Pak Gubernur mau letakkan. Semua anak punya hak mendapatkan
akses bahasa asing mulai dari dasar, dan gurunya juga harus dilatih,"
ujarnya.
Sejalan dengan Visi Papua Tengah Emas
Program ini sejalan dengan visi Papua Tengah Emas yang
diusung Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley. Dalam debat Pemilihan
Gubernur 2024, Meki menjelaskan Papua Tengah Emas sebagai pelayanan di semua
sendi kehidupan yang berlandaskan sila kelima Pancasila, yakni keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perhatian pada guru juga telah disampaikan sejak masa
kampanye. Saat itu Meki menegaskan bahwa keberadaan sekolah tidak akan berarti
tanpa guru, dan berjanji merekrut sarjana pendidikan asli daerah untuk mengajar
di wilayah konflik dengan gaji dan insentif yang setara.
Tambahkan Komentar Baru